Seriuh Kata Sebisu Kala
--Ruwi Meita, penulis novel.:
Membaca puisi-puisi Damtoz Andreas seperti mengulang kembali ingatan akan olah rasa, tentang bagaimana jatuh cinta, merindu, patah hati yang teruntai pada kata-kata ironi. Saya sangat menyukai puisi-puisi pendek seperti Memo Srikandi dan Biografi Mawar. Ironi indah, satire lembut. Saya juga seperti ikut melompat pada ilustrasi gambar yang memantapkan kata, sementara puisinya sendiri seperti gambar-gambar yang ditulis dengan harmonisasi warna yang hanya bisa dilihat oleh rasa. Puisi-puisi ini dianjurkan untuk dibaca saat hujan dan ditemani secangkir teh hangat yang pahit, sebab antara basah dan luka adalah rangkuman dari hujan dan teh pahit. Namun, puisi ini tidak dianjurkan dibaca saat sedang terluka sebab kau akan melewatkan dejavu rasa. Saya pikir begitu namun jika kau penasaran sebaiknya kau baca saja entah terluka atau tidak paling tidak dunia fantasi Damtoz yang akan menyentuhmu pelan-pelan sampai kau tak menyadari dirimu sudah terisap di dalamnya.
--Herlinatiens, penulis di Yogyakarta yang tengah berbahagia dengan anak wedoknya:
Antologi ini boleh jadi adalah antologi tubuh perempuan. Laiknya tubuh perempuan, ada yang tengah berdarah, ada juga yang tengah bergairah, dan ada yang tengah dikhianati. Boleh jadi nama-nama yang menjadi judul puisi ini tengah menari di atas tubuh mereka sendiri, tapi marilah menyediakan hati membiarkan mereka menari untuk kita dan secangkir kopi`
